Profil AURA Fullscreen Dashboard

AURA

IKASMANDA'92 DUMAI

Ahmad Marituius, SE

Alumni SMA Negeri 2 Dumai - 92

12

Postingan

34

Foto

87

Komentar

156

Like

Ahmad Marituius

Alumni 92

Alhamdulillah bisa berkumpul kembali...

Rudi: Mantap!
Siti: Rindu masa SMA
Budi: Keren sekali
Dewi: Salut!
Andi: Luar biasa
Siti Rahma

Alumni 92

Persiapan reuni semakin matang...

Rudi: Siap hadir
Ahmad: Mantap
Budi: Semangat
Dewi: Keren
Andi: Ditunggu
Budi Santoso

Alumni 92

Kegiatan sosial berjalan sukses...

Ahmad: Luar biasa
Siti: Bangga
Rudi: Mantap
Dewi: Hebat
Andi: Keren

Di antara denting waktu dan gemuruh langkah zaman, nama Nadya Tiara Dewi muncul sebagai sosok yang menari bukan hanya di atas panggung, melainkan di atas keyakinan, prinsip, dan cinta pada budaya yang ia peluk sepenuh hati.

Lahir di Dumai, 27 Juli 1997, Nadya tumbuh dalam pelukan kasih keluarga yang sarat nilai-nilai luhur. Ibunya, Herlina—seorang guru penuh dedikasi—menjadi cahaya awal bagi jalan pendidikannya. Sementara ayahnya, Yudi Kusdianto, seorang wirausahawan di bidang peternakan, menanamkan benih keteguhan dan kerja keras dalam setiap jengkal hidupnya.

Sejak usia lima tahun, Nadya telah menari. Tapi lebih dari sekadar gerak tubuh, ia menari untuk menyampaikan isi hati—untuk mengekspresikan perjuangan, harapan, dan cinta yang tak bisa diucapkan dengan kata. Ia menapaki jejak pendidikan di SDN 022 Jayamukti, lalu ke SMP Budi Dharma Dumai dan MAN 1 Dumai, hingga akhirnya menempuh studi di Universitas Islam Riau (UIR) pada jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik).

Namun perjalanan itu tak selalu diterima mudah. Ia pernah berbeda pendapat dengan orang tuanya saat memilih jalur seni. Fisiknya yang tak sempurna menjadi tantangan tambahan. Tapi ia percaya, setiap langkah tari adalah bentuk perlawanan yang lembut namun kokoh terhadap segala keraguan dan keterbatasan.

Kini, Nadya bukan hanya seorang penari. Ia adalah guru seni di Yayasan Pendidikan Budi Dharma Dumai, operator sekolah di TK Cendikia, dan sosok panutan bagi banyak anak muda yang ragu menempuh jalan yang tak biasa. Melalui tari, ia menanam nilai-nilai, menghidupkan semangat, dan menjaga akar budaya.

Visinya untuk Dumai begitu jelas: ia ingin seni dan budaya berkembang, dihargai, dan diwariskan. Ia meyakini Dewan Kesenian Daerah (DKD) dapat menjadi jantung yang memompa semangat kebudayaan lokal. Ia mengusulkan pelatihan dasar Tari Melayu, yang tidak hanya mengajarkan gerakan, tapi juga filosofi dan teknik yang menjadikannya warisan luhur.

Sejak bergabung dengan DKD Dumai tahun 2020, Nadya terus belajar dan berbagi. Ia aktif dalam kegiatan yang memperkuat eksistensi seni Melayu dan membangun ruang kolaborasi antargenerasi. Baginya, seni adalah napas kehidupan yang harus terus dijaga—dengan pendidikan, dedikasi, dan cinta.

"Seni bukan hanya tentang menari di panggung, tetapi tentang memahami irama kehidupan dan menjadikannya cerita yang indah."

Dengan langkah tegap dan jiwa yang tak lelah bermimpi, Nadya Tiara Dewi menari di atas prinsip dan cinta budaya. Bukan untuk dikenal, tapi untuk dikenang sebagai perempuan yang menari agar Dumai tak lupa pada jati dirinya.



Dumai, 16 April 2025 — Dumai XArt


Perkenalkan, saya Nadya Tiara Dewi, biasa disapa Nadya. Saya lahir di Dumai pada 27 Juli 1997, tumbuh dalam hangatnya cinta keluarga yang sederhana namun penuh makna. Ibu saya, Herlina, seorang guru yang menjadi cahaya dalam perjalanan pendidikan saya. Dari beliau, saya belajar tentang dedikasi tanpa syarat. Ayah saya, Yudi Kusdianto, seorang wirausahawan di bidang peternakan, menanamkan nilai keteguhan dan kerja keras dalam setiap langkah hidup saya.


🎓 Langkah Kecil yang Menari Menuju Mimpi

Sejak usia lima tahun, hati kecil saya telah jatuh cinta pada dunia tari. Dari gerakan-gerakan sederhana, saya mulai menapaki jalan panjang yang penuh tantangan dan pembelajaran. Pendidikan saya dimulai di SDN 022 Jayamukti, dilanjutkan ke SMP Budi Dharma Dumai, lalu MAN 1 Dumai. Cinta pada seni membawa saya melanjutkan studi di Universitas Islam Riau (UIR), pada jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik).


💃 Jejak Tari di Jalan yang Tak Mudah

Perjalanan saya tak selalu mulus. Di awal, pilihan saya untuk menempuh jalur seni sempat menjadi perdebatan di keluarga. Terlebih dengan keterbatasan fisik yang saya miliki, saya kerap harus menggandeng keberanian dan kesabaran sebagai sahabat sejati. Namun saya percaya, setiap karya besar terlahir dari perjuangan yang tidak kecil. Bagi saya, seni adalah ruang kejujuran—tentang bagaimana kita terus percaya dan berkarya meski diterpa aral melintang.

Hari ini, saya mengabdi sebagai guru seni di Yayasan Pendidikan Budi Dharma Dumai. Di sana, saya tak hanya mengajar, tapi juga berusaha menginspirasi. Selain itu, saya juga menjadi operator sekolah di TK Cendikia, tempat ibu saya mengemban amanah sebagai kepala sekolah.


🪷 Visi untuk Dumai: Merawat Akar Budaya

Dumai menyimpan potensi seni dan budaya yang kaya, namun masih banyak yang perlu digali dan diberi ruang tumbuh. Saya percaya, Dewan Kesenian Daerah (DKD) bisa menjadi motor penggerak dalam pengembangan ini—melalui pelatihan dan workshop yang tidak hanya mengajarkan gerak, tapi juga makna dan filosofi.

Saya sering melihat banyak yang bisa menari, tetapi belum memahami cara menari yang benar. Bukan hanya soal langkah, tetapi teknik, jiwa, dan cerita di balik gerakan. Saya berharap, melalui DKD, seni tradisional—khususnya Tari Melayu—bisa kembali menjadi kebanggaan yang hidup di tengah masyarakat kita.


🌱 Bergabung dengan DKD: Untuk Belajar dan Membagi

Tahun 2020 menjadi titik balik ketika saya memutuskan bergabung dengan DKD Dumai. Niat saya sederhana: belajar dari para maestro dan mengabdi untuk perkembangan seni daerah. Melalui organisasi ini, saya ingin menjadi bagian dari gerakan besar yang merawat, menghidupkan, dan membagikan keindahan seni Melayu kepada generasi baru.


🌺 Seni, Pendidikan, dan Harapan Masa Depan

Saya percaya, seni dan pendidikan adalah dua sayap yang akan menerbangkan masa depan yang lebih baik. Sebagai seorang guru, seniman, dan pembelajar seumur hidup, saya ingin terus menyalakan cahaya kecil di hati para siswa, komunitas, dan masyarakat luas. Bahwa seni bukan hanya pertunjukan—ia adalah cara kita hidup, mencintai, dan menjaga jati diri budaya kita.

“Seni bukan hanya tentang menari di panggung, tetapi tentang memahami irama kehidupan dan menjadikannya cerita yang indah.”

Dengan semangat, cinta, dan dedikasi, saya ingin terus berkarya dan menjadi bagian dari kebangkitan seni dan budaya Melayu di Dumai tercinta. Semoga setiap langkah kecil saya bisa membawa cahaya bagi generasi muda, dan menjadikan Dumai bukan hanya kota di peta—tetapi juga rumah bagi seni yang hidup dan berakar.



Dumai, 17 April 2025 - Majalah Dumai XArt

Perjalanan Takdir Tantri Subekti
Menelusuri Jejak Takdir di Tanah Jawa dan Dumai

Perjalanan waktu adalah alunan takdir yang tak pernah kita duga. Aku lahir di kota Wonosobo yang dingin, sebuah kota yang seakan dibalut kabut pagi yang penuh misteri. Dari sana, perjalanan hidupku mengalir, mengarungi sungai takdir yang membawa langkahku ke Yogyakarta, tempat di mana aku menuntaskan ilmu dan berjuang dengan segala mimpi. Lahir di tengah Desember yang penuh keheningan, aku diberi nama Tantri Subekti. Nama yang lahir bersama fajar subuh, di saat pagi pertama kali menyentuh bumi. Ayah, dengan hati yang penuh harapan, memberikan nama Tantri, terinspirasi oleh kisah tokoh Bali yang berjiwa luhur, dan Subekti, yang berarti fajar yang berbakti—sebuah doa agar aku menjadi cahaya yang memberikan makna, seperti sinar fajar yang menyentuh bumi dengan penuh kebajikan.


Darah Seni yang Mengalir di Keluarga
Ketika Seni Menjadi Bagian Tak Terpisahkan dari Kehidupan

Dalam keluarga yang dibesarkan oleh darah seni, aku adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Darah seni mengalir deras dalam kami semua. Kakakku yang ketiga, seorang pelukis, karyanya menghiasi monumen di Jakarta, sementara kakakku yang keenam memiliki suara yang menawan, yang selalu menggema di panggung-panggung pertandingan tarik suara. Aku, yang sejak kecil terbiasa mendengarkan lantunan lagu-lagu Jawa klasik dari ibuku, merasa seni adalah napasku. Ibu sering menyanyikan lagu-lagu seperti Dandang Gulo, dengan suara lembutnya yang menenangkan. Lagu itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan indah masa kecilku.


Perjalanan Cinta dan Takdir yang Tak Terduga
Dari Yogyakarta ke Dumai: Menjalani Kehidupan yang Tertulis dalam Takdir

Aku melangkah ke Yogyakarta, sebuah kota yang penuh dengan kerinduan akan seni dan sastra. Di sana, aku tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga menemukan banyak teman dan sahabat dalam dunia seni. Salah satu dari mereka adalah Bapak Jabrohim, yang mengajarkan aku bagaimana sastra dan seni bisa menjadi nafas hidup. Di tengah kesibukanku, aku bergabung dengan berbagai organisasi, salah satunya Kops Dakwah Pedesaan, yang membawaku lebih dekat dengan berbagai cerita kehidupan.

Namun, takdir mengarahkanku ke jalan yang tak pernah aku bayangkan. Di tahun akhir perkuliahanku, setelah menyelesaikan KKN, aku bertemu dengan Mas Kusrijanto. Cinta kami berkembang dalam perjalanan yang tak terencana, seolah diatur oleh tangan tak terlihat. Dengan hati yang penuh ragu, aku menerima pinangan Mas Kusrianto, dan kisah takdirku pun membawa langkahku menuju Kota Dumai—sebuah tempat yang namanya terdengar asing di telingaku. Dumai, kota yang terpatri hanya dalam peta, kini menjadi rumahku.


Dumai: Mencari Makna dalam Kehidupan yang Baru
Menghargai Jarak dan Menemukan Kehidupan Baru di Tanah Melayu

Dumai, yang awalnya terasa jauh, kini menjadi bagian dari hidupku. Ibu sempat melarangku untuk menikah dengan orang yang bukan berasal dari Jawa, takut jarak akan membuatku jauh dari keluarga. Namun, takdir tak bisa ditentang. Aku menikah dengan orang Sidoarjo yang kemudian ditugaskan di kilang Pertamina Dumai. Meskipun awalnya jarak terasa menganga, kami berdua menemukan cara untuk mengisi kekosongan itu dengan cinta dan pengertian. Mas Kusrianto yang disiplin, seorang pria yang berpikiran terencana, berhasil melengkapi hidupku yang penuh dengan seni yang kadang tak terstruktur, namun selalu penuh dengan kepastian.

Tahun pertama kami di Dumai terasa begitu asing. Kami menginjakkan kaki di bandara Pinang Kampai, sebuah bandara kecil yang mengantarkan kami ke sebuah dunia baru. Rumah di kompleks Pertamina terasa sunyi, dan sepi itu, meskipun kadang menenangkan, sering kali menjadi ruang yang menakutkan bagiku. Namun, di tengah kesunyian itu, aku menemukan kenyamanan dalam berkarya, didukung oleh suami yang selalu memberikan ruang untukku untuk mengekspresikan diri.


Menumbuhkan Keluarga dan Berkarya di Dumai
Berkarya dan Menghadirkan Makna dalam Setiap Langkah Hidup

Waktu berlalu, dan dengan hadirnya anak-anak, kami mulai menemukan makna baru dalam hidup. Anak pertama kami kini kuliah di jurusan Teknik Kimia, sementara anak kedua, yang sejak kecil menyukai seni, memilih kuliah di jurusan animasi dan perfilman di Malaysia. Anak ketiga, yang kini berada di sekolah internasional di Yogyakarta, dan si bungsu yang masih SMP di Dumai, menjadikan rumah kami penuh dengan kisah hidup yang tak terhitung jumlahnya.

Setelah tujuh tahun di Dumai, kami memulai usaha dekorasi yang menyulap kebosanan menjadi kegembiraan, hobi yang akhirnya menjadi bagian dari hidup kami. Dua puluh dua tahun telah berlalu, dan meskipun kami datang dari Jawa, Dumai kini telah menjadi rumah bagi hati kami. Anak-anak kami, yang dibesarkan dengan dua budaya, kini merasa mereka adalah bagian dari Dumai. Mereka tahu betul, Dumai telah mengajarkan mereka banyak hal—dari tradisi, bahasa, hingga makanan yang kaya rasa.

Dumai memberikan makna yang dalam bagi kami, sebagai tempat yang tak hanya menumbuhkan kehidupan fisik, tetapi juga kehidupan batin yang penuh dengan kenangan indah dan pembelajaran.


Seni: Menghidupkan Ruang dan Kehidupan
Seni Sebagai Sarana Menyentuh Jiwa dan Menciptakan Kenangan

Seni adalah bahasa yang menghubungkan jiwa dengan dunia. Sejak SMP, dunia seni sudah mengalir dalam hidupku. Bakat yang terpendam dalam diri ini mulai terasah lewat tarik suara dan puisi. Setiap kali aku mengikuti lomba, baik itu lomba baca puisi atau tarik suara, aku merasa ada bagian dari diriku yang berbicara melalui kata-kata dan melodi. Ketika kuliah, aku sempat menjuarai lomba puisi tingkat Jawa-Bali, yang kemudian membawaku menjadi penyiar radio dan MC di berbagai acara kenegaraan.

Namun, seni bukan hanya tentang kompetisi atau prestasi. Seni adalah cara untuk mengekspresikan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bergabung dengan teater Emha saat di SMA Muhammadiyah Wonosobo, dan kemudian dengan teater Salahudin E. M. Ainun Najib, mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan dan seni. Dunia teater membawaku ke banyak tempat—Surabaya, Jakarta, Lampung—dan mempertemukanku dengan tokoh-tokoh besar negeri ini.

Di tahun 2007, saat anak bungsuku lahir, aku kembali diberi kesempatan oleh suami untuk terjun ke dunia seni. Saat itu, aku dipertemukan dengan Bang Ahyar dari sanggar Biduk Betuah, yang mengajakku untuk kembali berkarya. Karya pertama yang kami garap adalah Terali Penyayir, sebuah karya teater yang memakan waktu sebulan lebih untuk menyempurnakannya. Mengasah karakter pemain yang belum memahami teater adalah tantangan besar, namun itu juga yang membuat karya itu menjadi begitu istimewa.

Seni mengajarkanku untuk selalu jujur, untuk selalu melihat dunia dengan mata yang lebih dalam. Seni tidak hanya menghidupkan ruang, tetapi juga kehidupan itu sendiri. Dan aku akan selalu mengenang setiap orang yang pernah singgah dalam hidup kami, karena tanpa mereka, perjalanan ini tidak akan terwujud.

Kenangan dalam Karya: Puisi dan Teater Padepokan Bambu

Di antara jejak langkah perjalanan hidup, ada karya yang mengalun lembut, mengisi ruang kosong dengan makna dan keindahan. Salah satu momen indah itu terekam dalam puisi karya anakku, yang kami bacakan dengan penuh perasaan, mengalir seperti aliran sungai yang membawa kedamaian dalam relung tenggelamnya matahati.

Puisi Karya Anakku
Bacaan puisi yang tak hanya sekadar kata, tetapi adalah sebuah doa dan harapan, menghantar kami menyelami dunia batin yang lebih dalam. Dengarkan puisi karya anakku di sini.

Sementara itu, dunia teater kembali menjadi ruang untuk berkarya, tempat di mana karakter hidup dan berbicara. Teater Padepokan Bambu mengajak kita merenung, menghidupkan sebuah kisah yang sarat makna. Sebuah perjalanan seni yang tak terlupakan, melalui perjuangan dan semangat bersama.

Teater Padepokan Bambu
Dengan tangan-tangan kreatif dan semangat yang membara, kami mempersembahkan karya ini untuk dunia. Tonton Teater Padepokan Bambu di sini.
Saksikan Teater Padepokan Bambu lainnya di sini.

Dalam setiap karya, ada sudut pandang yang berbeda, seperti sebuah lensa yang memperlihatkan keindahan dari segala sisi. Tantri Subekti - Sudut Pandang mengajak kita untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih dalam, untuk memahami setiap detil kehidupan.

Tantri Subekti - Sudut Pandang
Dengan mata hati yang jernih, kami berbagi pandangan, semoga bisa menyentuh hati setiap insan yang menyaksikan. Tonton video Tantri Subekti - Sudut Pandang di sini.

Dumai ,16 April 2025 - Dumai XArt

Nama Lengkap: Sugito
Nama Panggilan: Gito
Tempat Lahir: Dabo Singkep, Kepulauan Riau
Tanggal Lahir: 3 Desember 1952
Pendidikan: STM, SMA, Kuliah di Bandung
Karier: Seniman Teater dan Penulis
Organisasi Seni: Dewan Kesenian Daerah (DKD) Dumai


Perjalanan Seni dan Teater

Sugito memulai kiprahnya di dunia seni sejak muda. Setelah menempuh pendidikan di Bandung, ia kembali ke Dumai dan aktif dalam berbagai kegiatan seni. Ia pernah bekerja di Bandung Jaya Film sebagai broker pada tahun 1976 dan kemudian pindah ke Pekanbaru, di mana ia bertemu dengan Ibrahim Satah dan mendirikan Bengkel Teater Bhayangkara, yang menjadi cikal bakal Dewan Kesenian Pekanbaru.

Di Dumai, Sugito bergabung dengan Kelompok Seni Bhiang Sakti dan Remaja Seni Panipahan. Pada tahun 1979, ia bekerja di Chevron dan melanjutkan kariernya di dunia teater dengan mendirikan Teater Widuri di Duri dan Teater Biduk Betuah di Dumai. Ia juga terlibat dalam Teater Kenari di Bangko Pusako, yang mendapat apresiasi di Pekanbaru.


Karya Sastra

Sugito dikenal sebagai seorang penulis yang menciptakan karya-karya sastra. Beberapa novel yang telah ditulisnya antara lain:

  1. Haruskah Aku Kau Miliki?

  2. Dua Perempuan Tionghoa

  3. Menggapai Pucuk Cinta di Ranting Sakura

  4. Merempat

  5. Kembara di Ujung Asa

Saat ini, ia sedang menulis dua karya baru:

  1. Dia Lelah Menunggumu

  2. Hikmah Dibalik Fenomena


Pandangan tentang Seni dan Budaya di Dumai

Menurut Sugito, dunia seni sastra di Dumai saat ini stagnan, tidak berkembang secara signifikan. Meskipun begitu, ia tetap berharap agar pelatihan menulis dan kompetisi baca puisi menjadi lebih sering dilakukan. Dengan adanya TV Dumai, Sugito berkeinginan agar hasil karya seni dapat lebih dikenal oleh masyarakat, terutama keluarga dan komunitas yang bangga dengan prestasi anak-anak muda.

Sugito juga menekankan pentingnya pendataan dan inventarisasi seni dan budaya di Dumai. Setelah itu, seni dan budaya yang ada bisa dipelajari melalui seminar atau diskusi santai. Bagi Sugito, seni dan budaya seharusnya bukan hanya menjadi simbol, tetapi juga bagian dari kehidupan yang terus berlanjut, menghubungkan generasi tua dengan generasi muda.


Harapan dan Penerus Seni Budaya

Sugito percaya bahwa untuk mengembangkan seni dan budaya di Dumai, ada kebutuhan untuk membangun generasi muda yang memiliki kesadaran budaya, dengan pendekatan yang lebih santai dan berkesinambungan. Ia tidak berharap banyak selain agar seni budaya lokal terus berkembang dengan kolaborasi antara generasi tua dan muda.

Seni adalah kekayaan yang tidak bisa tergantikan, dan melalui proses yang kontinu, ia berharap Dumai akan memiliki lebih banyak seniman yang bisa mengangkat seni lokal ke tingkat yang lebih tinggi.


"Seni bukan untuk dikenal, tapi untuk diteruskan. Dan itulah yang membuat seni abadi."


Sugito—seniman yang telah banyak berkontribusi dalam dunia seni di Dumai dan sekitarnya, serta terus berupaya menjaga dan mengembangkan seni budaya lokal untuk masa depan.



Dumai ,16 April 2025 - Dumai XArt

Perkenalkan, nama saya Nadya Tiara Dewi, biasa disapa Nadya. Saya lahir di Dumai pada 27 Juli 1997 dan dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan dukungan. Ibu saya, Herlina, adalah seorang guru yang menjadi inspirasi terbesar dalam dunia pendidikan saya. Ayah saya, Yudi Kusdianto, seorang wirausahawan di bidang peternakan, mengajarkan saya tentang keteguhan hati dan kerja keras.


🎓 Langkah Kecil yang Menari Menuju Mimpi

Sejak usia lima tahun, saya sudah mencintai seni tari, dan itu membawa saya ke perjalanan yang penuh tantangan. Pendidikan saya dimulai dari SDN 022 Jayamukti, SMP Budi Dharma Dumai, dan MAN 1 Dumai. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Riau (UIR) dengan jurusan Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik).


💃 Perjalanan dalam Dunia Seni Tari

Perjalanan saya tidak mudah. Saya sempat menghadapi perbedaan pandangan dengan orang tua saat memilih jalur seni. Dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, saya harus terus bertahan dan memperjuangkan impian saya. Meski begitu, saya yakin bahwa setiap hal besar membutuhkan proses. Seni bagi saya adalah tentang komitmen dan kepercayaan diri untuk terus berkarya.

Kini, saya berprofesi sebagai guru seni di Yayasan Pendidikan Budi Dharma Dumai, tempat saya mengajar dan menginspirasi siswa-siswi dalam dunia seni, khususnya tari. Saya juga berperan sebagai operator sekolah di TK Cendikia, tempat di mana ibu saya menjabat sebagai kepala sekolah.


🪷 Visi untuk Dumai: Mengembangkan Seni dan Budaya

Sebagai seorang seniman, saya melihat banyak potensi yang bisa digali dalam dunia seni dan budaya di Dumai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memperkuat peran Dewan Kesenian Daerah (DKD) sebagai wadah pelatihan dan workshop seni. Misalnya, dengan mengadakan pelatihan dasar Tari Melayu, yang tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga teknik dan filosofi di balik setiap tarian.

Menurut saya, banyak orang yang tahu bagaimana cara menari, tetapi belum memahami teknik dalam menari. Saya berharap, melalui DKD, seni dan budaya di Dumai akan lebih berkembang dan dihargai, terutama seni tradisional yang menjadi akar budaya kita.


🌱 Bergabung dengan DKD: Belajar dan Berbagi

Pada tahun 2020, saya memutuskan untuk bergabung dengan DKD Dumai. Keputusan ini saya ambil untuk lebih memahami dunia organisasi kesenian dan menimba ilmu dari para seniman berpengalaman. Saya juga ingin berkontribusi dalam memajukan seni Melayu di Dumai melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan masyarakat.


🌺 Seni, Pendidikan, dan Harapan Masa Depan

Saya percaya bahwa seni dan pendidikan harus berjalan berdampingan. Sebagai seorang guru seni, saya ingin terus berkontribusi dalam mengembangkan potensi seni di Dumai, baik melalui kegiatan di sekolah, komunitas seni, maupun dalam pelatihan-pelatihan yang saya selenggarakan.

Seni bukan hanya tentang gerakan di atas panggung, tetapi juga tentang bagaimana kita menghidupkan dan melestarikan budaya kita. Melalui komitmen dan kerja keras, saya berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mencintai seni dan budaya.

"Seni bukan hanya tentang menari di panggung, tetapi tentang memahami irama kehidupan dan menjadikannya cerita yang indah."


Dengan semangat dan dedikasi, saya berkomitmen untuk terus berkreasi dan berkarya di dunia seni, serta berkontribusi dalam pelestarian budaya Melayu di Dumai. Semoga langkah saya ini dapat memberikan dampak positif bagi generasi muda, dan menjadi bagian dari kebangkitan seni di kota kelahiran saya.


 

Dumai ,16 April 2025 - Dumai XArt

Namaku Puji Miarsa, tapi sejak kecil, aku lebih dikenal dengan nama tengahku: Jimmy. Nama itu bukan hanya panggilan, melainkan identitas yang tumbuh bersama perjalanan panjangku dalam dunia seni. Aku lahir di Dumai, pada 12 Desember 1982, dari keluarga yang tak berkaitan langsung dengan dunia seni. Tapi sejak kecil, sudah ada tanda-tanda kecil—bercermin, bergaya seperti artis TV—yang rupanya adalah cikal bakal mimpiku hari ini.


🖋️ Menemukan Seni di Jalan yang Tak Terduga

Perjalanan pendidikanku membawaku dari TK Kemala Bhayangkari, SDN 010 Jayamukti, lalu ke Pondok Pesantren Modern Al Kautsar Pekanbaru. Di sinilah aku mengenal kaligrafi, seni huruf, dan menjadi Ketua Bagian Kesenian. Walau akhirnya kuliah di jurusan yang berbeda, yaitu di Universitas Islam Sumatera Utara, seni tetap memanggilku. Aku mulai menyelami musik, fotografi, dan film pendek, sebagai cara untuk memahami dan menyampaikan isi pikiranku.


🎧 Musik, Lensa, dan Imajinasi yang Hidup

Aku mendirikan band Brainstorming dengan genre death metal, merilis beberapa mini album sebagai ekspresi jiwa. Di saat yang sama, aku juga dipercaya sebagai Ketua Komunitas Fotografi Dumai, dan aktif membuat film pendek bersama teman-teman di OK Production Dumai. Lewat musik dan gambar, aku belajar bahwa setiap karya adalah potongan dari diriku yang tak bisa dipisahkan.


💡 Seni Adalah Napas Hidupku

Seni, bagiku, adalah bagian dari hidup. Ia hadir dalam keseharian, dalam imajinasi, bahkan dalam strategi seperti yang dikatakan Sun Tzu dalam The Art of War. Di tengah Revolusi Industri 4.0, aku percaya seni—baik digital maupun manual—akan tetap relevan dan tak pernah kehilangan makna.


🤲 Untuk Dumai, Aku Berkarya

Cita-citaku sederhana tapi besar: terus berkarya untuk Dumai, kota yang melahirkanku. Lewat videografi, fotografi, musik, dan karya visual lainnya, aku ingin jadi bagian dari sejarah kebudayaan di kota ini. Dan semoga, langkahku ini selalu dilandasi niat baik, rendah hati, dan rasa cinta yang tulus. Aamiin.